Rabu, 27 Mei 2015

Memperbaiki Niat


๐Ÿ’–MEMPERBAIKI NIAT๐ŸŒท
✏(Syaikhah Ummu Abdirrahman)

๐Ÿ’กุนู†ุฏู…ุง ุชูƒูˆู† ู†ู‚ูŠุงً ู…ู† ุงู„ุฏุงุฎู„،
ูŠู…ู†ุญูƒ ุงู„ู„ู‡ ู†ูˆุฑุงً ู…ู†
ุญูŠุซ ู„ุง ุชุนู„ู…،

๐Ÿ’žูŠุญุจูƒ ุงู„ู†ุงุณ ู…ู† ุญูŠุซ ู„ุง ุชุนู„ู…،

ูˆ ุชุฃุชูŠูƒ ู…ุทุงู„ุจูƒ ู…ู† ุญูŠุซ ู„ุง ุชุนู„ู…،،

๐Ÿ‘ุตุงุญุจ ุงู„ู†ูŠุฉ ุงู„ุทูŠุจุฉ
 ู‡ูˆ ู…ู† ูŠุชู…ู†ู‰ ุงู„ุฎูŠุฑ ู„ู„ุฌู…ูŠุน ุฏูˆู† ุงุณุชุซู†ุงุก ،

☝ูุณุนุงุฏุฉ ุงู„ุขุฎุฑูŠู† ู„ู† ุชุคุฎุฐ ู…ู† ุณุนุงุฏุชูƒ ،

❗๐Ÿ‘ˆ ูˆุบِู†ุงู‡ู… ู„ู† ูŠู†ู‚ุต ู…ู† ุฑุฒู‚ูƒ ،

❗๐Ÿ‘ˆูˆุตุญุชู‡ู… ู„ู† ุชุณู„ุจูƒ ุนุงููŠุชูƒ ،

❗๐Ÿ‘ˆูˆุงุฌุชู…ุงุนุงุชู‡ู… ุจุฃุญุจุชู‡ู…
ู„ู† ูŠูู‚ุฏูƒ ุฃุญุจุงุจูƒ .

๐Ÿ’ชุฏุงุฆู…ุง ูƒู† ุงู„ุดุฎุต
ุงู„ุฐูŠ ูŠู…ุชู„ูƒ ุงู„ู†ูŠุฉ ุงู„ุทูŠุจุฉ

๐ŸšฟKetika engkau membersihkan dari dalamnya,
๐Ÿ’กMaka Allah akan memberikan karunia kepadamu berupa cahaya dari sisi yang engkau tidak ketahui (dari arah mana datangnya)...

๐Ÿ’žManusia akan mencintaimu dari sisi yang engkau tidak ketahui (dari arah mana datangnya)...
Dan sesuatu  yang engkau tuntut akan datang dari sisi yang engkau tidak ketahui (dari arah mana datangnya)...

๐Ÿ‘Seseorang yang memiliki niat yang baik adalah seorang yang menginginkan kebaikan itu terdapat pada semua orang tanpa terkecuali,

☝Maka kebahagiaan orang lain itu tidaklah terambil dari kebahagiaanmu...

❗๐Ÿ‘‰Dan kekayaan mereka tidaklah mengurangi rezekimu....

❗๐Ÿ‘‰Dan kesehatan mereka tidaklah menghilangkan kesehatanmu...

❗๐Ÿ‘‰Dan berkumpulnya mereka dengan orang-orang yang dicintai tidaklah menjadikan engkau terlepas dari orang-orang yang engkau cintai...

๐Ÿ’ชTerus-meneruslah untuk menjadi seseorang yang memiliki niat yang baik.


๐Ÿ“Penerjemah:
๐ŸŽ“Ummu Muhammad Al Bugisiyyah

-------------------
๐Ÿ“ฑWA Silsilah Durus Linnisa-089688865305๐Ÿ“š

Mutiara Salaf : Asal Kegelisahan Hati


๐Ÿ’ŽMUTIARA SALAF (09)

⭐Berkata Ibnul Qayyim -rahimahullah-;

ุฅู†ู…ุง ุชุญุตู„ ุงู„ู‡ู…ูˆู… ูˆุงู„ุบู…ูˆู… ูˆุงู„ุฃุญุฒุงู†
ู…ู† ุฌู‡ุชูŠู†:

1-ุงู„ุฑุบุจุฉ ููŠ ุงู„ุฏู†ูŠุง ูˆุงู„ุญุฑุต ุนู„ูŠู‡ุง،
2-ูˆุงู„ุชู‚ุตูŠุฑ ููŠ ุฃุนู…ุงู„ ุงู„ุจุฑ ูˆุงู„ุทุงุนุฉ.

"Gundah gulana, kegoncangan jiwa serta kesedihan itu terjadi hanyalah dari dua sisi;

☝karena keinginan besarnya terhadap dunia serta bersemangat mendapatkannya, dan

✌kurangnya dalam melakukan amalan-amalan kebaikan dan ketaatan".
_______
๐Ÿ“’'Iddatush Shabiriin (317)

                   ๐Ÿ“Œ๐Ÿ“Œ๐Ÿ“Œ

✒Ustadz Fauzan Al Kutawy
-------------------
๐Ÿ“ฑWA Silsilah Durus Linnisa-089688865305๐Ÿ“š

Rabu, 13 Mei 2015

⛔฿Žไ“กudariku, Merdunya Suaramu Bukan untuk Semua Lelaki฿Œ้€


⛔๐ŸŽคSaudariku, Merdunya Suaramu Bukan untuk Semua Lelaki๐ŸŒน

ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู…

➡Allah subhaanahu wa ta'ala berfirman,

ูَู„َุง ุชَุฎْุถَุนْู†َ ุจِุงู„ْู‚َูˆْู„ِ ูَูŠَุทْู…َุนَ ุงู„َّุฐِูŠ ูِูŠ ู‚َู„ْุจِู‡ِ ู…َุฑَุถٌ ูˆَู‚ُู„ْู†َ ู‚َูˆْู„ًุง ู…َุนْุฑُูˆูًุง

✅"Maka janganlah kamu (para wanita) melembutkan suara dalam berbicara, sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik." [Al-Ahzab: 32]

๐Ÿ“Penjelasan Makna Ayat:

๐Ÿ“ŒIbnu Katsir rahimahullah berkata,

ูˆู…ุนู†ู‰ ู‡ุฐุง: ุฃู†ู‡ุง ุชุฎุงุทุจ ุงู„ุฃุฌุงู†ุจ ุจูƒู„ุงู… ู„ูŠุณ ููŠู‡ ุชุฑุฎูŠู…، ุฃูŠ: ู„ุง ุชุฎุงุทุจ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุงู„ุฃุฌุงู†ุจ ูƒู…ุง ุชุฎุงุทุจ ุฒูˆุฌู‡ุง

๐Ÿ‘‰"Makna ayat ini: Bahwa seorang wanita tidak boleh berbicara dengan laki-laki asing (non mahram atau bukan suaminya) dengan ucapan yang lembut. Maksudnya: Janganlah seorang wanita berbicara dengan laki-laki asing seperti berbicara dengan suaminya." [Tafsir Ibnu Katsir, 6/409]

๐Ÿ“ŒIbnu Taimiyah rahimahullah berkata,

{ูَูŠَุทْู…َุนَ ุงู„َّุฐِูŠ ูِูŠ ู‚َู„ْุจِู‡ِ ู…َุฑَุถٌ} ูˆَู‡ُูˆَ ู…َุฑَุถُ ุงู„ุดَّู‡ْูˆَุฉِ ูَุฅِู†َّ ุงู„ْู‚َู„ْุจَ ุงู„ุตَّุญِูŠุญَ ู„َูˆْ ุชَุนَุฑَّุถَุชْ ู„َู‡ُ ุงู„ْู…َุฑْุฃَุฉُ ู„َู…ْ ูŠَู„ْุชَูِุชْ ุฅู„َูŠْู‡َุง ุจِุฎِู„َุงูِ ุงู„ْู‚َู„ْุจِ ุงู„ْู…َุฑِูŠุถِ ุจِุงู„ุดَّู‡ْูˆَุฉِ ูَุฅِู†َّู‡ُ ู„ِุถَุนْูِู‡ِ ูŠَู…ِูŠู„ُ ุฅู„َู‰ ู…َุง ูŠَุนْุฑِุถُ ู„َู‡ُ ู…ِู†ْ ุฐَู„ِูƒَ ุจِุญَุณَุจِ ู‚ُูˆَّุฉِ ุงู„ْู…َุฑَุถِ ูˆَุถَุนْูِู‡ِ ูَุฅِุฐَุง ุฎَุถَุนْู†َ ุจِุงู„ْู‚َูˆْู„ِ ุทَู…ِุนَ ุงู„َّุฐِูŠ ูِูŠ ู‚َู„ْุจِู‡ِ ู…َุฑَุถٌ.

๐Ÿ‘‰“Orang yang ada penyakit dalam hatinya, artinya adalah penyakit syahwat, karena sesungguhnya pemilik hati yang sehat, andaikan ia berpapasan dengan seorang wanita maka ia tidak akan menoleh kepadanya, berbeda dengan pemilik hati yang berpenyakit syahwat, sungguh karena kelemahannya ia selalu cenderung kepada syahwat, kecenderungannya sesuai dengan kuat dan lemahnya penyakit syahwat tersebut, maka apabila kaum wanita melembutkan suara dalam berbicara, berkeinginanlah orang yang ada penyakit syahwat dalam hatinya.” [Majmu’ Al-Fatawa, 10/95]

๐Ÿ“ŒAs-Sa'di rahimahullah berkata,

ุงู„َّุฐِูŠ ูِูŠ ู‚َู„ْุจِู‡ِ ู…َุฑَุถٌ ุฃูŠ: ู…ุฑุถ ุดู‡ูˆุฉ ุงู„ุฒู†ุง، ูุฅู†ู‡ ู…ุณุชุนุฏ، ูŠู†ุธุฑ ุฃุฏู†ู‰ ู…ุญุฑูƒ ูŠุญุฑูƒู‡، ู„ุฃู† ู‚ู„ุจู‡ ุบูŠุฑ ุตุญูŠุญ

๐Ÿ‘‰"Orang yang ada penyakit dalam hatinya, maknanya: Penyakit syahwat zina, maka ia dengan sangat mudah akan tergoda walau dengan sedikit rayuan, karena hatinya tidak sehat." [Taisirul Karimir Rahman, hal. 663]

๐Ÿ“ŒBeliau rahimahullah juga berkata,

ูู‡ุฐุง ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุฃู† ุงู„ูˆุณุงุฆู„، ู„ู‡ุง ุฃุญูƒุงู… ุงู„ู…ู‚ุงุตุฏ. ูุฅู† ุงู„ุฎุถูˆุน ุจุงู„ู‚ูˆู„، ูˆุงู„ู„ูŠู† ููŠู‡، ููŠ ุงู„ุฃุตู„ ู…ุจุงุญ، ูˆู„ูƒู† ู„ู…ุง ูƒุงู† ูˆุณูŠู„ุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ู…ุญุฑู…، ู…ู†ุน ู…ู†ู‡، ูˆู„ู‡ุฐุง ูŠู†ุจุบูŠ ู„ู„ู…ุฑุฃุฉ ููŠ ู…ุฎุงุทุจุฉ ุงู„ุฑุฌุงู„، ุฃู† ู„ุง ุชู„ِูŠู†َ ู„ู‡ู… ุงู„ู‚ูˆู„. ูˆู„ู…ุง ู†ู‡ุงู‡ู† ุนู† ุงู„ุฎุถูˆุน ููŠ ุงู„ู‚ูˆู„، ูุฑุจู…ุง ุชูˆู‡ู… ุฃู†ู‡ู† ู…ุฃู…ูˆุฑุงุช ุจุฅุบู„ุงุธ ุงู„ู‚ูˆู„، ุฏูุน ู‡ุฐุง ุจู‚ูˆู„ู‡: {ูˆَู‚ُู„ْู†َ ู‚َูˆْู„ุง ู…َุนْุฑُูˆูًุง} ุฃูŠ: ุบูŠุฑ ุบู„ูŠุธ، ูˆู„ุง ุฌุงู ูƒู…ุง ุฃู†ู‡ ู„ูŠุณ ุจِู„َูŠِّู†ٍ ุฎุงุถุน

๐Ÿ‘‰"Maka ayat ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa hukum sarana sesuai tujuan, karena melembutkan dan memerdukan suara pada dasarnya mubah, akan tetapi ketika ia dapat menjadi sarana kepada yang haram maka dilarang, hingga sepatutnya bagi wanita dalam berbicara dengan laki-laki asing untuk tidak melembutkan suara.

๐Ÿ‘‰Dan tatkala Allah melarang para wanita melembutkan suara, maka bisa terjadi salah sangka bahwa mereka diperintahkan untuk mengeraskan suara, sehingga sangkaan tersebut ditolak dengan firman-Nya:

ูˆَู‚ُู„ْู†َ ู‚َูˆْู„ًุง ู…َุนْุฑُูˆูًุง

๐Ÿ‘‰"Dan ucapkanlah perkataan yang baik." Maksudnya: Tidak keras dan tidak kasar, sebagaimana juga tidak boleh lemah lembut (kepada selain suami)." [Taisirul Karimir Rahman, hal. 663]

๐Ÿ“œ#Beberapa_Pelajaran:

1) Wanita dalam Islam sangat mulia sehingga perlu dijaga dan diperhatikan dengan baik, bahkan penjagaan Islam terhadap wanita ditetapkan dari seluruh sisi, apakah hatinya, penampilannya, pandangan matanya, tingkah lakunya, termasuk cara berbicaranya.

2) Wanita memang menarik lagi menggoda, maka setan pun sering kali memanfaatkan kaum wanita untuk menjerumuskan kaum lelaki dalam dosa, inilah pentingnya menjaga kaum wanita agar tidak dijadikan anak panah setan.

3) Tidak patut wanita dijadikan 'alat' penarik kaum lelaki selain suaminya, walau hanya dengan suaranya, apatah lagi lebih dari itu seperti tubuhnya dan penampilannya. Maka tidak pantas menjadikan wanita sebagai:

๐Ÿ‘‰SPG yang melayani umum baik pria dan wanita,

๐Ÿ‘‰Penyanyi, dan ini adalah profesi yang haram,

๐Ÿ‘‰Artis dan model, ini juga profesi yang haram karena mengandung berbagai keharaman.

๐Ÿ‘‰Dan berbagai profesi lainnya yang mengeksploitasi kaum wanita sebagai penarik kaum lelaki selain suaminya.

4) Islam telah menetapkan batasan-batasan dan adab-adab yang baik dalam pergaulan, termasuk pergaulan antara lawan jenis, maka hendaklah dipelajari, diamalkan dan diajarkan.

5) Islam adalah agama yang sempurna, mengatur seluruh aspek kehidupan dengan sebaik-baik aturan, membimbing kepada kemaslahatan dan menjauhi kemudaratan, mengajak kepada akhlak yang mulia dan melarang akhlak yang tercela.

6) Berpalingnya manusia dari bimbingan syari'at akan memunculkan berbagai macam malapetaka dan kerusakan, baik dunia dan agama.

7) Hati terbagi tiga; hati yang sehat, yang sakit dan yang mati.

8) Bahaya penyakit hati dan pentingnya menjaga dan mengobatinya, serta bahaya memperturutkan nafsu syahwat.

9) Seorang suami atau istri wajib memahami adab-adab pergaulan dan batasan-batasan antara suami istri dan lawan jenis yang bukan suami atau istrinya.

10) Kaidah syari'at: (ุงู„ูˆุณุงุฆู„ ู„ู‡ุง ุฃุญูƒุงู… ุงู„ู…ู‚ุงุตุฏ) Sarana memiliki hukum sesuai tujuan.

11) Sesuatu yang mubah dapat menjadi haram apabila mengantarkan kepada yang haram, dan dapat menjadi wajib apabila suatu kewajiban tidak dapat tegak kecuali dengannya.

12) Perintah berkata-kata yang baik.

13) Syari'at Islam apabila melarang sesuatu pasti memberikan solusi yang lebih baik, ketika syari'at Islam melarang berbicara dengan cara yang tidak baik, selanjutnya diperintahkan berkata-kata yang baik.

14) Keindahan dan keistimewaan syari'at menunjukkan Allah Maha Berilmu dan Maha Hikmah.

15) Manusia adalah makhluk yang lemah, mudah terjerumus dalam dosa oleh nafsu syahwat dan godaan setan, jalan selamatnya adalah berpegang teguh dengan syari'at Allah ta'ala dan senantiasa memohon pertolongan-Nya.

ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…

๐Ÿ’พ๐ŸŒhttp://sofyanruray.info/saudariku-merdunya-suaramu-bukan-untuk-semua-lelaki/

Boleh disebarkan sebagai ta'awun dalam dakwah tauhid dan sunnah, jazaakumullaahu khayron wa baaroka fiykum.

[disingkat oleh WhatsApp]

Selasa, 05 Mei 2015

CAMBUK HATI

CAMBUK HATI

"Bila Shalat Terasa Berat"

"Bila shalat terasa berat bagimu, maka ketahuilah bahwa di dalam hatimu ada kemunafikan. Karena merasa malas untuk menunaikan sholat merupakan sikap orang-orang munafik yang Allah kabarkan dalam firman-Nya:

ูˆุฅุฐุง ู‚ุงู…ูˆุง ุฅู„ู‰ ุงู„ุตู„ุงุฉ ู‚ุงู…ูˆุง ูƒุณุงู„ู‰

"...Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas... "(QS. An Nisa ': 142)

Namun bila engkau merasa bahwa sholat begitu ringan, hatimupun gembira karenanya maka itu merupakan tanda bahwa imanmu kokoh"

(Ibnu Utsaimin dalam syarah Shohih Muslim)

Catatan:

Sejenak mari kita bertanya pada diri masing-masing, bagaimanakah kedudukan sholat di hati kita..?
Apakah kita termasuk orang yang semangat dalam melaksanakan sholat ataukah sebaliknya.? Jawaban terhadap dua pertanyaan diatas akan menjadi penentu apakah kita termasuk orang yang beriman ataukah orang yang munafik.?

Sebagai seorang muslim sudah seharusnya kita memberi perhatian yang lebih terhadap sholat, yang merupakan tiang agama dan sekaligus sebagai penentu baik buruknya amalan kita. Menjaga sholat berarti menjaga agama.

Dalam risalah Ta'dzim As-Shalah (hal:6) Prof. Dr. Abdurrazzak bin Abdul Muhsin Al-Abbad mengatakan:

"Agama seorang muslim tidak akan kokoh, amalannya tidak akan baik dan seluruh urusannya baik dunia maupun akhirat akan berantakan sampai ia menegakkan sholat sebagaimana yang diperintahkan. Yaitu dengan keimanan yang kokoh, penghambaan yang tulus serta mengikuti petunjuk nabi shallallahu alaihi wa sallam"

Wallahu a'lam

_______________
Madinah 14 Rajab 1436 H

 ✏ Ditulis oleh Ustadz Aan Candra Thalib ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰

Rabu, 29 April 2015

฿”ๅฅngapa Wanita yang Terbanyak Masuk Neraka?




ุจِุณْู…ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุงู„ุฑَّุญْู…َู†ِ ุงู„ุฑَّุญِูŠู…ِ

๐Ÿ‘‰Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

ุงุทَّู„َุนْุชُ ูِู‰ ุงู„ْุฌَู†َّุฉِ ูَุฑَุฃَูŠْุชُ ุฃَูƒْุซَุฑَ ุฃَู‡ْู„ِู‡َุง ุงู„ْูُู‚َุฑَุงุกَ ูˆَุงุทَّู„َุนْุชُ ูِู‰ ุงู„ู†َّุงุฑِ ูَุฑَุฃَูŠْุชُ ุฃَูƒْุซَุฑَ ุฃَู‡ْู„ِู‡َุง ุงู„ู†ِّุณَุงุก

"Aku menoleh ke surga maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir, dan aku menoleh ke neraka maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita." [Al-Bukhari dari Imron bin Hushain radhiyallahu'anhu dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu'anhuma]

๐Ÿ‘‰Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam juga bersabda,

ุฃُุฑِูŠุชُ ุงู„ู†َّุงุฑَ ูَุฅِุฐَุง ุฃَูƒْุซَุฑُ ุฃَู‡ْู„ِู‡َุง ุงู„ู†ِّุณَุงุกُ ูŠَูƒْูُุฑْู†َ ู‚ِูŠู„َ ุฃَูŠَูƒْูُุฑْู†َ ุจِุงู„ู„َّู‡ِ ู‚َุงู„َ ูŠَูƒْูُุฑْู†َ ุงู„ْุนَุดِูŠุฑَ ูˆَูŠَูƒْูُุฑْู†َ ุงู„ุฅِุญْุณَุงู†َ ู„َูˆْ ุฃَุญْุณَู†ْุชَ ุฅِู„َู‰ ุฅِุญْุฏَุงู‡ُู†َّ ุงู„ุฏَّู‡ْุฑَ ุซُู…َّ ุฑَุฃَุชْ ู…ِู†ْูƒَ ุดَูŠْุฆًุง ู‚َุงู„َุชْ ู…َุง ุฑَุฃَูŠْุชُ ู…ِู†ْูƒَ ุฎَูŠْุฑًุง ู‚َุท

“Aku diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita, karena mereka kufur.” Beliau ditanya: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab: “Mereka kufur kepada suami dan mengingkari kebaikan. Andaikan engkau berbuat baik kepada seorang istri sepanjang waktu, kemudian sekali saja ia melihat kesalahanmu, maka ia mengatakan: Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma]

๐Ÿ‘‰Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam juga bersabda,

ูŠَุง ู…َุนْุดَุฑَ ุงู„ู†ِّุณَุงุกِ، ุชَุตَุฏَّู‚ْู†َ ูˆَุฃَูƒْุซِุฑْู†َ ุงู„ِุงุณْุชِุบْูَุงุฑَ، ูَุฅِู†ِّูŠ ุฑَุฃَูŠْุชُูƒُู†َّ ุฃَูƒْุซَุฑَ ุฃَู‡ْู„ِ ุงู„ู†َّุงุฑِ ูَู‚َุงู„َุชِ ุงู…ْุฑَุฃَุฉٌ ู…ِู†ْู‡ُู†َّ ุฌَุฒْู„َุฉٌ: ูˆَู…َุง ู„َู†َุง ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„ู‡ِ ุฃَูƒْุซَุฑُ ุฃَู‡ْู„ِ ุงู„ู†َّุงุฑِ؟ ู‚َุงู„َ: ุชُูƒْุซِุฑْู†َ ุงู„ู„َّุนْู†َ، ูˆَุชَูƒْูُุฑْู†َ ุงู„ْุนَุดِูŠุฑ

“Wahai para wanita bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar (memohon ampun kepada Allah), karena sesungguhnya aku telah diperlihatkan bahwa kalian para wanita yang terbanyak menghuni neraka. Maka berkatalah seorang wanita yang pandai: Mengapa kami para wanita yang terbanyak menghuni neraka? Beliau bersabda: Karena kalian banyak melaknat dan kufur terhadap suami.” [HR. Al-Bukhari dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu dan Muslim dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, dan ini lafaz Muslim]

๐Ÿ‘‰Dalam hadits yang lain,

ู„ِุฃَู†َّูƒُู†َّ ุชُูƒْุซِุฑْู†َ ุงู„ุดَّูƒَุงุฉَ، ูˆَุชَูƒْูُุฑْู†َ ุงู„ْุนَุดِูŠุฑَ

“Karena kalian banyak mengeluh dan kufur terhadap suami.” [HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]

๐Ÿ“‹Beberapa Pelajaran:

1⃣ Durhaka kepada suami, tidak menaati perintahnya yang tidak menyelisihi syari’at dan tidak berterima kasih kepadanya, termasuk sebab terbanyak yang memasukkan wanita ke dalam neraka, karena mengingkari kebaikan suami termasuk dosa besar (lihat Syarhu Muslim lin Nawawi, 2/66).

2⃣ Sebab yang lainnya adalah karena banyak melaknat, dan makna melaknat ada dua:
•Pertama: Mencaci atau mencela (lihat Syarhu Riyadhis Shaalihin libnil ‘Utsaimin, 3/67)
•Kedua: Mendoakan orang lain agar dijauhkan dari kebaikan dan rahmat Allah (lihat Syarhu Muslim, 2/67)

3⃣ Sebab yang lainnya adalah banyak mengeluh, dan bisa kemungkinan dua makna:
•Pertama: Mengeluhkan keadaan suami dan tidak menunaikan haknya, padahal sang suami telah banyak berbuat baik kepadanya.
•Kedua: Mengeluhkan rezeki yang Allah berikan, tidak bersyukur kepada-Nya dan tidak merasa tenang dengan ketetapan-Nya (lihat Ihkaamul Ahkaam, 1/346)

4⃣ Dalam hadits ini terdapat beberapa pelajaran terkait nasihat dan metodenya:
•Pertama: Peringatan dan nasihat khusus kepada kaum wanita untuk lebih meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal shalih dan menjauhi dosa-dosa.
•Kedua: Perintah kepada kaum lelaki untuk mengajarkan hukum-hukum Islam terhadap kaum wanita dan menetapkan majelis khusus untuk menasihati mereka dengan syarat aman dari ‘fitnah’.
•Ketiga: Memberi penekanan dalam nasihat jika diharapkan dengan itu akan dapat menghilangkan sifat jelek orang yang dinasihati.
•Keempat: Hendaklah memperhatikan nasihat yang paling dibutuhkan.
•Kelima: Hendaklah senantiasa memberi nasihat, terutama kepada yang membutuhkan nasihat.
(Lihat Nailul Authar, 6/24 dan Ihkaamul Ahkaam, 1/345)

5⃣Motivasi untuk memperbanyak sedekah dan istighfar, dan bahwa keduanya termasuk sebab keselamatan seorang hamba dari azab Allah ‘azza wa jalla, karena kebaikan dapat menghapus kejelekan (lihat Syarhu Muslim lin Nawawi, 2/66 dan Ihkaamul Ahkaam, 1/345).

6⃣ Hadits ini juga menunjukkan bahwa kekafiran ada dua bentuk, kufur akbar (besar) yang menyebabkan pelakunya murtad; keluar dari Islam dan kufur ashgar (kecil) yang termasuk dosa besar namun tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam (lihat Syarhu Muslim lin Nawawi, 2/67).

7⃣ Sebagaimana dalam hadits ini juga terkandung pelajaran bahwa iman dapat naik dan turun, naik dengan ketaatan dan turun karena kemaksiatan (lihat Syarhu Muslim lin Nawawi, 2/67).

8⃣ Seorang pemimpin hendaklah memperhatikan kondisi masyarakatnya, terutama pengamalan mereka terhadap agama, lebih khusus lagi memperhatikan kaum wanita sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam (lihat Syarhu Muslim lin Nawawi, 2/67).

9⃣ Bolehnya seorang penuntut ilmu bertanya kepada guru apabila belum jelas pengajarannya, sebagaimana yang dilakukan wanita sahabat radhiyallahu’anha tersebut (lihat Syarhu Muslim lin Nawawi, 2/67).

๐Ÿ”Ÿ Hadits ini juga menunjukkan bahwa wanita boleh bersedekah dengan hartanya tanpa izin suami, ini pendapat Jumhur ulama (lihat Nailul Athar, 6/24)

ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…

๐Ÿ’พ๐ŸŒhttp://sofyanruray.info/mengapa-wanita-yang-terbanyak-masuk-neraka/

Boleh disebarkan sebagai ta'awun dalam dakwah tauhid dan sunnah, jazaakumullaahu khayron wa baaroka fiykum.

[disingkat oleh WhatsApp]

Mengingatkan untuk Ikhlas dalam Menuntut Ilmu


Mengingatkan untuk Ikhlas dalam Menuntut Ilmu]:

๐Ÿ“šIkhlas dalam Menuntut Ilmu dan Keinginan Meraih Gelar atau Ijazah๐Ÿ“–

ุจِุณْู…ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุงู„ุฑَّุญْู…َู†ِ ุงู„ุฑَّุญِูŠู…ِ

๐Ÿ‘‰Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

ู…َู†ْ ุทَู„َุจَ ุงู„ْุนِู„ْู…َ ู„ِูŠُุฌَุงุฑِู‰َ ุจِู‡ِ ุงู„ْุนُู„َู…َุงุกَ ุฃَูˆْ ู„ِูŠُู…َุงุฑِู‰َ ุจِู‡ِ ุงู„ุณُّูَู‡َุงุกَ ุฃَูˆْ ูŠَุตْุฑِูَ ุจِู‡ِ ูˆُุฌُูˆู‡َ ุงู„ู†َّุงุณِ ุฅِู„َูŠْู‡ِ ุฃَุฏْุฎَู„َู‡ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ุงู„ู†َّุงุฑَ

“Barangsiapa menuntut ilmu untuk menandingi para ulama, atau mendebat orang-orang bodoh, atau memalingkan pandangan-pandangan manusia kepadanya, maka Allah akan memasukkannya ke neraka.” [HR. At-Tirmidzi dari Ka’ab bin Malik radhiyallahu’anhu, Shahih At-Targhib: 106]

๐Ÿ‘‰Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

ู…َู†ْ ุชَุนَู„َّู…َ ุนِู„ْู…ًุง ู…ِู…َّุง ูŠُุจْุชَุบَู‰ ุจِู‡ِ ูˆَุฌْู‡ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุนَุฒَّ ูˆَุฌَู„َّ ู„ุงَ ูŠَุชَุนَู„َّู…ُู‡ُ ุฅِู„ุงَّ ู„ِูŠُุตِูŠุจَ ุจِู‡ِ ุนَุฑَุถًุง ู…ِู†َ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ู„َู…ْ ูŠَุฌِุฏْ ุนَุฑْูَ ุงู„ْุฌَู†َّุฉِ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ

“Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya diharapkan dengannya wajah Allah ‘azza wa jalla, tetapi ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” [HR. Ahmad, Abu daud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Shahih Ath-Targhib: 105]

๐Ÿ“‹Beberapa Pelajaran:

1⃣ Menuntut ilmu adalah ibadah yang sangat agung apabilla diniatkan ikhlas karena Allah ta’ala.

• Sebagian ulama berkata,

ุงู„ุนู„ู… ุตู„ุงุฉ ุงู„ุณุฑ ูˆุนุจุงุฏุฉ ุงู„ู‚ู„ุจ

“Ilmu adalah sholat yang tersembunyi dan ibadah hati.” [Hilyah Thalibil ‘Ilmi (dicetak bersama Al-Majmu’ah Al-‘Ilmiah), hal. 141]

• Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata,

ุงู„ุนู„ู… ู„ุง ูŠَุนْุฏู„ู‡ ุดูŠุก ู„ู…ู† ุตุญุช ู†ูŠุชู‡ ู‚ุงู„ูˆุง: ูˆูƒูŠู ุชุตุญ ุงู„ู†ูŠุฉ ูŠุง ุฃุจุง ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡؟ ู‚ุงู„: ูŠู†ูˆูŠ ุฑูุน ุงู„ุฌู‡ู„ ุนู† ู†ูุณู‡ ูˆุนู† ุบูŠุฑู‡

“Ilmu itu tidak dapat ditandingi oleh amalan apapun bagi orang yang niatnya benar (dalam menuntut ilmu).” Mereka bertanya, “Bagaimana benarnya niat wahai Abu Abdillah?” Beliau menjawab, “Seorang yang menuntut ilmu itu meniatkan untuk mengangkat kebodohan dari dirinya dan dari orang lain.” [Kitabul ‘Ilmi libnil ‘Utsaimin rahimahullah, hal. 22]

2⃣ Bagaimana cara mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu:

• Engkau niatkan untuk menjalankan perintah Allah ta’ala (karena Allah ta'ala).

• Engkau niatkan untuk menjaga syari’at Allah ta’ala, sebab menjaga syari’at itu dilakukan dengan menghapalnya dalam dada dan menulisnya dalam buku.

• Engkau niatkan untuk membela syari’at Allah ta’ala, yakni menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang disandarkan kepada syari’at.

• Engkau niatkan untuk meneladani Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, terlebih engkau tidak mungkin meneladani beliau sampai engkau mengetahui petunjuk beliau shallallahu’alaihi wa sallam. (Diringkas dari Syarh Hilyah Thalibil ‘Ilmi, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, hal. 7-9)

3⃣ Celaan yang keras terhadap dua golongan dalam menuntut ilmu;

• Orang yang membantah para ulama untuk riya’ dan sum’ah agar terlihat atau terdengar ilmunya,

• Mendebat orang-orang bodoh untuk berbangga-bangga dan sombong dengan ilmunya (lihat Faidhul Qodir, 6/176).

4⃣ Cinta popularitas adalah penyakit para penuntut ilmu yang harus diwaspadai.

• Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata,

ู…ุง ุตَุฏَู‚ ุงู„ู„ู‡ ุนุจุฏ ูŠุญุจ ุงู„ุดู‡ุฑุฉ ุจุนู„ู… ุฃูˆ ุนู…ู„ ุฃูˆ ูƒุฑู…

“Tidaklah jujur kepada Allah, seorang hamba yang cinta popularitas dengan ilmu, amal atau kedermawanan.” [Bayaanul ‘Ilmi, hal. 63]

• Bisyr bin Al-Harits rahimahullah berkata,

ู„ุง ูŠุฌุฏ ุญู„ุงูˆุฉ ุงู„ุขุฎุฑุฉ ุฑุฌู„ ูŠุญุจ ุฃู† ูŠุนุฑูู‡ ุงู„ู†ุงุณ

“Tidak akan mendapatkan manisnya akhirat, orang yang suka dikenal oleh manusia.” [Al-Hilyah, 8/343, Bayaanul ‘Ilmi, hal. 64]

5⃣Celaan yang keras terhadap orang yang berniat menuntut ilmu agama untuk meraih tujuan-tujuan duniawi semata seperti menginginkan ijazah, gelar sarjana, jabatan dan gaji yang tinggi. Bahkan niat tersebut termasuk kesyirikan, Allah ta’ala berfirman,

ู…َู†ْ ูƒَุงู†َ ูŠُุฑِูŠุฏُ ุงู„ْุญَูŠَุงุฉَ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูˆَุฒِูŠู†َุชَู‡َุง ู†ُูˆَูِّ ุฅِู„َูŠْู‡ِู…ْ ุฃَุนْู…َุงู„َู‡ُู…ْ ูِูŠู‡َุง ูˆَู‡ُู…ْ ูِูŠู‡َุง ู„َุง ูŠُุจْุฎَุณُูˆู†َ ุฃُูˆู„َุฆِูƒَ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ู„َูŠْุณَ ู„َู‡ُู…ْ ูِูŠ ุงู„ْุขุฎِุฑَุฉِ ุฅِู„َّุง ุงู„ู†َّุงุฑُ ูˆَุญَุจِุทَ ู…َุง ุตَู†َุนُูˆุง ูِูŠู‡َุง ูˆَุจَุงุทِู„ٌ ู…َุง ูƒَุงู†ُูˆุง ูŠَุนْู…َู„ُูˆู†َ

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya (semata-mata), niscaya Kami berikan kepada mereka balasan amalan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” [Hud: 15-16]

• Akan tetapi kalau ia meniatkan ijazah tersebut untuk lebih membantunya dan memudahkannya dalam berdakwah maka itu niat yang baik. Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

ุฅุฐุง ูƒุงู†ุช ู†ูŠุฉ ุงู„ุฅู†ุณุงู† ู†ูŠู„ ุงู„ุดู‡ุงุฏุฉ ู…ู† ุฃุฌู„ ู†ูุน ุงู„ุฎู„ู‚ ุชุนู„ูŠู…ًุง ุฃูˆ ุฅุฏุงุฑุฉ ุฃูˆ ู†ุญูˆู‡ุง، ูู‡ุฐู‡ ู†ูŠุฉ ุณู„ูŠู…ุฉ ู„ุง ุชุถุฑู‡ ุดูŠุฆًุง؛ ู„ุฃู†ู‡ุง ู†ูŠุฉ ุญู‚

“Apabila niat seseorang mendapat ijazah untuk memberi manfaat kepada makhluk dengan pengajaran, pengaturan (manajemen) dan yang semisalnya, maka ini niat yang selamat, tidak membahayakan sedikit pun, karena niatnya benar.” [Kitabul ‘Ilmi, hal. 21]

• Demikian pula apabila ia menuntut ilmu agama dengan niat ikhlas karena Allah ta’ala dan juga menginginkan ijazah untuk kemanfaatan duniawi seperti gaji yang tinggi maka tidak apa-apa insya Allah ta'ala. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

ุฃู† ุงู„ุฅู†ุณุงู† ุฅุฐุง ุฃุฑุงุฏ ุจุนู…ู„ู‡ ุงู„ุญุณู†ูŠูŠู†- ุญุณู†ู‰ ุงู„ุฏู†ูŠุง، ูˆุญุณู†ู‰ ุงู„ุขุฎุฑุฉ-; ูู„ุง ุดูŠุก ุนู„ูŠู‡ ู„ุฃู† ุงู„ู„ู‡ ูŠู‚ูˆู„: {ูˆَู…َู†ْ ูŠَุชَّู‚ِ ุงู„ู„َّู‡َ ูŠَุฌْุนَู„ْ ู„َู‡ُ ู…َุฎْุฑَุฌุงً ูˆَูŠَุฑْุฒُู‚ْู‡ُ ู…ِู†ْ ุญَูŠْุซُ ู„ุง ูŠَุญْุชَุณِุจُ}، ูุฑุบุจู‡ ููŠ ุงู„ุชู‚ูˆู‰ ุจุฐูƒุฑ ุงู„ู…ุฎุฑุฌ ู…ู† ูƒู„ ุถูŠู‚ ูˆุงู„ุฑุฒู‚ ู…ู† ุญูŠุซ ู„ุง ูŠุญุชุณุจ.


“Bahwa manusia, jika menginginkan dengan amalannya dua kebaikan, yaitu kebaikan dunia dan kebaikan akhirat, maka tidak ada dosa atasnya, karena Allah ta’ala berfirman,

ูˆَู…َู†ْ ูŠَุชَّู‚ِ ุงู„ู„َّู‡َ ูŠَุฌْุนَู„ْ ู„َู‡ُ ู…َุฎْุฑَุฌุงً ูˆَูŠَุฑْุฒُู‚ْู‡ُ ู…ِู†ْ ุญَูŠْุซُ ู„ุง ูŠَุญْุชَุณِุจُ

“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberikan rezeki kepadanya dari arah yang tidak ia sangka.” (Ath-Tholaq: 2-3)

Maka dalam ayat ini, Allah ta’ala memotivasi untuk bertakwa dengan menyebutkan jalan keluar dari kesempitan dan rezeki dari arah yang tidak ia sangka." [Al-Qoulul Mufid, 2/138]

• Berbeda dengan niat yang tercampur dengan riya’ atau sum’ah, yaitu memperlihatkan atau memperdengarkan amalan demi mendapat pujian makhluk, ini diharamkan dalam semua keadaan, bahkan termasuk kategori syirik kepada Allah ta’ala. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

ูุฅู† ู‚ูŠู„: ู…ู† ุฃุฑุงุฏ ุจุนู…ู„ู‡ ุงู„ุฏู†ูŠุง ูƒูŠู ูŠู‚ุงู„ ุฅู†ู‡ ู…ุฎู„ุต، ู…ุน ุฃู†ู‡ ุฃุฑุงุฏ ุงู„ู…ุงู„ ู…ุซู„ุง؟
ุฃุฌูŠุจ: ุฅู†ู‡ ุฃุฎู„ุต ุงู„ุนุจุงุฏุฉ ูˆู„ู… ูŠุฑุฏ ุจู‡ุง ุงู„ุฎู„ู‚ ุฅุทู„ุงู‚ุง، ูู„ู… ูŠู‚ุตุฏ ู…ุฑุงุกุงุฉ ุงู„ู†ุงุณ ูˆู…ุฏุญู‡ู…، ุจู„ ู‚ุตุฏ ุฃู…ุฑุง ู…ุงุฏูŠุง; ูุฅุฎู„ุงุตู‡ ู„ูŠุณ ูƒุงู…ู„ุง ู„ุฃู† ููŠู‡ ุดุฑูƒุง، ูˆู„ูƒู† ู„ูŠุณ ูƒุดุฑูƒ ุงู„ุฑูŠุงุก ูŠุฑูŠุฏ ุฃู† ูŠู…ุฏุญ ุจุงู„ุชู‚ุฑุจ ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡، ูˆู‡ุฐุง ู„ู… ูŠุฑุฏ ู…ุฏุญ ุงู„ู†ุงุณ ุจุฐู„ูƒ، ุจู„ ุฃุฑุงุฏ ุดูŠุฆุง ุฏู†ูŠุฆุง ุบูŠุฑู‡.
ูˆู„ุง ู…ุงู†ุน ุฃู† ูŠุฏุนูˆ ุงู„ุฅู†ุณุงู† ููŠ ุตู„ุงุชู‡، ูˆูŠุทู„ุจ ุฃู† ูŠุฑุฒู‚ู‡ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ู…ุงู„، ูˆู„ูƒู† ู„ุง ูŠุตู„ูŠ ู…ู† ุฃุฌู„ ู‡ุฐุง ุงู„ุดูŠุก; ูู‡ุฐู‡ ู…ุฑุชุจุฉ ุฏู†ูŠุฆุฉ.
ุฃู…ุง ุทู„ุจ ุงู„ุฎูŠุฑ ููŠ ุงู„ุฏู†ูŠุง ุจุฃุณุจุงุจู‡ ุงู„ุฏู†ูŠูˆูŠุฉ; ูƒุงู„ุจูŠุน، ูˆุงู„ุดุฑุงุก، ูˆุงู„ุฒุฑุงุนุฉ; ูู‡ุฐุง ู„ุง ุดูŠุก ููŠู‡، ูˆุงู„ุฃุตู„ ุฃู† ู„ุง ู†ุฌุนู„ ููŠ ุงู„ุนุจุงุฏุงุช ู†ุตูŠุจุง ู…ู† ุงู„ุฏู†ูŠุง، ูˆู‚ุฏ ุณุจู‚ ุงู„ุจุญุซ ููŠ ุญูƒู… ุงู„ุนุจุงุฏุฉ؛ ุฅุฐุง ุฎุงู„ุทู‡ุง ุงู„ุฑูŠุงุก، ููŠ ุจุงุจ ุงู„ุฑูŠุงุก.

"Jika dikatakan: Barangsiapa yang menginginkan dunia (dan akhirat) dengan amalannya, bagaimana bisa dikatakan bahwa dia orang yang ikhlas, padahal dia menginginkan harta –misalkan-?

Aku jawab: Sesungguhnya ia telah mengikhlaskan ibadah dan tidak menginginginkan (pujian) makhluk secara mutlak, maka ia tidak bermaksud untuk mempertontonkan amalannya kepada manusia dan meraih pujian mereka, tetapi ia bermaksud mendapatkan sesuatu yang sifatnya materi, maka keikhlasannya tidak sempurna, karena padanya ada percampuran (tidak murni), akan tetapi tidak sama dengan syirik seperti riya', yang menginginkan agar dipuji ketika mendekatkan diri kepada Allah. Adapun yang ini, tidak menginginkan pujian manusia ketika beribadah, namun ia menginginkan sesuatu yang rendah selain itu.

Dan tidak mengapa seseorang berdoa dalam sholatnya, meminta rezeki dari Allah, akan tetapi janganlah ia sholat karena hal ini, karena ini tingkatan yang rendah. Adapun mengejar kebaikan dunia dengan amalan-amalan dunia, seperti jual beli dan pertanian, maka ini tidak ada dosa padanya. Dan hukum asal, kita tidak boleh menjadikan dalam ibadah-ibadah itu bagian untuk dunia, dan telah lewat pembahasan hukum ibadah apabila tercampur riya pada Bab Riya'.” [Al-Qoulul Mufid, 2/138]

• Adapun menuntut ilmu dunia dengan niat meraih harta dunia hukum asalnya mubah, namun apabila diniatkan juga untuk beribadah kepada Allah ta’ala, seperti demi memberi manfaat untuk kaum muslimin, maka menjadi ibadah (lihat Syarhu Hilyah Thalibil ‘Ilmi dan Kitabul ‘Ilmi libnil ‘Utsaimin rahimahullah, hal. 76-77)

ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…

๐Ÿ’พ๐ŸŒhttp://sofyanruray.info/ikhlas-dalam-menuntut-ilmu-dan-keinginan-meraih-gelar-atau-ijazah/

Boleh disebarkan sebagai ta'awun dalam dakwah tauhid dan sunnah, jazaakumullaahu khayron wa baaroka fiykum.

[disingkat oleh WhatsApp]

Minggu, 26 April 2015

17 Kiat Menjadikan Anak sholeh


17 Kiat Menjadikan Anak Shalih

Orang tua tentunya menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang shalih dan shalehah. Maka, -wahai para orang tua- lakukanlah kiat berikut ini, niscaya dengan izin Allah, putra putri Anda akan menjadi seorang anak yang shalih dan shalihah.

�๐Ÿ‚ Ajarkan al-Quran dan sunnah NabiNya

๐Ÿ‚ Tumbuhkan kecintaaan kepada Allah dan RasulNya

๐Ÿ‚ Perintahkan mereka shalat di awal waktu

๐Ÿ‚ Ajak mereka (anak laki-laki) untuk shalat berjama’ah di masjid

๐Ÿ‚ Ajarkan kepada mereka tata cara ibadah yang benar

๐Ÿ‚ Didik, latih, dan arahkan serta biasakan mereka untuk senantiasa berdzikir, selalu merasa diawasi oleh Allah dan selalu tumbuh rasa takut kepadaNya

๐Ÿ‚ Biasakan mereka membaca doa sehari-hari

๐Ÿ‚ Biasakan mereka untuk melakukan adab-adab yang baik

๐Ÿ‚ Biasakan mereka untuk mengucapkan salam ketika masuk rumah

๐Ÿ‚ Pilihlah sekolah atau lembaga pendidikan yang baik untuk mereka

๐Ÿ‚ Bila mereka salah nasehatilah dengan penuh kelembutan dan sekali-kali dengan ketegasan dalam rangka mendidik, dan usahakan dengan rahasia (berdua), tidak di depan orang lain serta pilihlah waktu yang tepat. Janganlah segera memberi hukuman, tanyalah dulu sebab dan berilah solusi terbaik. Jika terpaksa memberikan hukuman pilihlah hukuman yang mendidik.  Ajarkan agar ia meminta maaf, dan berilah kesempatan untuk memperbaiki diri.

๐Ÿ‚ Latihlah mereka untuk bisa mandiri dan bertanggung jawab dengan cara memberi tugas yang mungkin bisa dilakukannya.

๐Ÿ‚ Hindarkan mereka dari teman yang buruk dan sarana-sarana yang dapat mengantarkan mereka terjerembab ke dalam keburukan.

๐Ÿ‚ Biasakan mengajak mereka untuk bersilaturrahim

๐Ÿ‚ Ajarkan mereka untuk saling tolong menolong sesamanya dalam kebaikan

๐Ÿ‚ Jadilah diri Anda teladan yang baik bagi mereka.

๐Ÿ‚ Berilah mereka nafkah dari sumber yang halal dan baik
_________________

(Sumber: Pesan ini disebarluaskan oleh BB Dakwah Al-Sofwa PIN 24C805BD)