Tampilkan postingan dengan label ustad Aan Candra Thalib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ustad Aan Candra Thalib. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 November 2015

JATI DIRI KEMUSLIMAN KITA

💌 JATI DIRI KEMUSLIMAN KITA

Sebagai muslim, kita semestinya menjadi pusaran-pusaran manfaat bagi orang lain yang menaruh harapan besar pada jati diri kemusliman kita.

Disetiap pilihan hidup -sebagai apapun- kemusliman kita harus memberi kemanfaatan. Sebab hanya orang yang selalu memberi manfaat kepada sesama yang akan mampu memancarkan cahaya islam dalam performa yang luhur.

Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda :

1⃣  "Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya,

2⃣  Perbuatan yang paling dicintai Allah adalah menggembirakan seorang muslim,

3⃣  Atau menjauhkan kesusahan darinya,

4⃣  Atau membayarkan hutangnya,

5⃣  Atau menghilangkan laparnya.

6⃣  Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri'ktikaf di masjid ini (masjid Nabawi) selama sebulan,

7⃣  Barangsiapa yang menahan amarahnya niscaya Allah akan menutup aibnya,

8⃣  Dan barangsiapa yang menahan murkanya padahal jika dia mau dia dapat melampiaskannya, niscaya Allah akan memenuhi hatinya dengan keridhaan pada hari kiamat,

9⃣ Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya muslim untuk sebuah keperluan hingga urusannya selesai, niscaya Allah akan meneguhkan telapak kakinya pada hari ketika telapak kaki-telapak kaki tergelincir pada hari itu(hari kiamat)

🔟  Dan sungguh akhlak yang buruk benar-benar akan menghancurkan amalan sebagaimana cuka menghancurkan madu."

(HR. Ath Thabrani di dalam Al Mu'jam Al Kabir, no. 13646, Dan Ibnu Abid Dunya dalam Qadhaa'ul hawaaij dari Ibnu Umar Radhiallahu anhuma serta dihasankan oleh al Albani di dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no. 906)

Mari bercermin kembali...

✏ Ditulis oleh Ustadz Aan Candra Thalib حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Selasa, 17 November 2015

MIMBAR DAKWAH, DULU DAN KINI

MIMBAR DAKWAH, DULU DAN KINI

Dahulu... Mimbar dakwah adalah tempat yang sangat terhormat. Ia hanya boleh diisi oleh orang-orang yang berilmu.
Diatasnya curahan ilmu dan hikmah mengucur deras ke hati para pendengar.
Adab yang terpancar dari seorang ulama/da'i menjadi daya tarik tersendiri bagi para jamaah.
Sehingga mereka yang datang tidak hanya  pulang membawa ilmu, tapi juga pancaran adab sang guru.
Contoh kongkritnya adalah majelis Imam Ahmad.
Diantara puluhan ribu jamaah yang hadir, hanya 500 orang yang menulis, sisanya memperhatikan bagaimana adab seorang Imam Ahmad.

Adapun saat ini....?
Sebagian mimbar dakwah berubah menjadi panggung hiburan. Lebih banyak diisi oleh para pelawak berbaju Ustadz. Sedikit ilmu, kering adab.
Hasilnya adalah banjir idola dan miskin teladan.
Jamaah yang semestinya pulang membawa ilmu, justru kembali dengan hati yang keras.
Kita tidak mengatakan bahwa canda dan gurauan itu haram bagi seorang da'i.
Tapi ia ibarat garam bagi makanan, bila berlebihan maka akan merusaknya.
Kecuali canda dan gurauan yang bercampur dusta. Hukumnya haram untuk selama-lamanya.

📝 Oleh Ustadz Aan Candra Thalib حفظه الله تعالى