Senin, 29 Juni 2015
Catatan Dauroh Nahwu Ramadhan 1436 H
بسم الله الرحمن الرحيم
📘Catatan Dauroh Nahwu Ramadhan 1436 H📘
🎓Pemateri: al-Ustadz Irham Maulana, hafizhahullah
Muqaddimah:
Hikmah al-Qur'an diturunkan dalam bahasa arab adalah لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ (agar kalian berfikir), jadi jika ingin mendalami al-Qur'an harus berakal.
1⃣ Pengertian Nahwu dan Sharf.
📚Nahwu adalah ilmu dengan kaidah2 yang diketahui dengan kaidah tersebut hukum-hukum akhir suatu kata.
Dalam bahasa mudahnya nahwu adalah ilmu yang mempelajari tentang tata kalimat.
Contohnya di al-Qur'an kita sering menemui kata Allah yang akhirannya berbeda bunyi (AllaHU, AllaHI, AllaHA)
📗Sharf adalah ilmu dengan kaidah-kaidah yang diketahui dengan kaidah-kaidah tersebut perubahan kata.
Contoh:
عَالِمٌ (orang yang berilmu) berasal dari kata عَلِمٌ (mengetahui), selain itu juga dari kata عَلِمٌ bisa berubah menjadi مَعْلُوْمٌ (yang diketahui) dan عُلَمَاءُ (orang-orang yang berilmu).
2⃣ Pengertian al-Kalimah dan macam-macamnya
📖 al-Kalimah adalah lafaz yang memiliki makna.
⛔Jangan keliru al-kalimah dalam bahasa arab artinya bukan kalimat, tetapi yang benar artinya adalah kata.
al-Kalimah dalam bahasa arab hanya dibagi menjadi 3, yaitu:
✅Isim (kata benda)
Isim adalah kata yang menunjukkan makna dari dirinya tanpa berkaitan dengan waktu. (Dikatakan isim krn bukan fi'il dan bukan harfun)
cth: دِيْنٌ (agama), بَيْتٌ (rumah), قَلَمٌ (pulpen)
Ciri-ciri isim:
١. Tanwin, cth: مَثَلاً, كَلِمَةً. طَيِّبَةً
٢. Kasrah, cth بِا الله
٣. alif lam, cth: الملك، القدوس
٤. harful jar, cth: في بيت
٥. al-idhofah (akan djelaskan lebih lanjut nanti)
✅Fi'il (kata kerja)
Fi'il adalah kata yang menunjukkan makna dirinya yg berkaitan dengan waktu (krn bisa dikasih kata telah, sedang, dan akan datang)
cobtoh fi'il: ضَرَبَ (telah memukul), ذَهَبَ (telah pergi)
Ciri-ciri fi'il:
١. قَدْ, cth: قَدْ تَبَيَّن (البقرة: ٢٥٦)َ
٢. س, cth: سَيَذَّكَّرُ (الأعلى ١٠
٣. سَوْفَ، contoh التكاثر ٣
٤. Ta sakun, cth: قَالَتْ
٥. Ta fa'il, cth: خَلَقْتُ
✅Harfun (kata sambung)
Harfun yaitu kata yang menunjukkan pada makna selainnya.
Contoh harfun:
بِ-اِلَى-كَ (seperti)-لِي-عَنْ-مِنْ-فِي-عَلَى
Rumus utk cepat menghafal harf: BILA KALIAN MINFI ALA
🚫Ustadz bilang jangan terlalu memusingkan definisi, yang pentng tau mana isim, fi'il, harf.
📒Dhomir Munfashil
هو،هما،هم،هي،هما،هن
انت،انتما،انتم،انت،انتما،انتن
انا،نحن
Sabtu, 27 Juni 2015
CP Pengurusan jenazah
Bismillah
INFO PENGURUSAN JENAZAH DARI RODJA :
Suatu saat nanti Jika anda membutuhkan Bantuan Penyelenggara Jenazah sesuai tuntunan nabi صلى الله عليه وسلم , dimulai dari mmandikan, mengkafani, mensholati dan penguburan.
Silahkan menghubungi Masjid Al Barkah, (Radio Rodja) Cileungsi.
CP Bpk Yono : 081386895811. Bpk Asep/Abu Zaki : 082124862809, 02192291712.
Semoga Bermanfaat..
Jazakumullahu khoiron@>--
Lantunan do’a yang tak asing di telinga kita..
(Ust.Badrusalam, Lc)
Lantunan do’a yang tak asing di telinga kita..
Ya Rabbi bil mushthofaa..
Balligh maqooshidana..
Bagi siapa saja yang memahami bahasa arab..
Akan mendapati bahwa huruf ba dalam bil mushtofa..
Mempunyai makna wasilah atau sumpah..
Dengan melalui al mushthofa..
Atau demi al mushtofa..
Dengan melalui al mushtofa..
Tawassul kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah mati..
Tawassul yang syirik..
Dahulu..
Kaum musyrikin arab..
Meyakini bahwa pencipta langit dan bumi adalah Allah..
Ketika mereka ditanya, “Lalu mengapa kalian menyembah Latta dan Uzza..”
Mereka menjawab..
ما نعبدهم إلا ليقربونا إلى الله زلفى
“Kami tidak menyembah mereka kecuali agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah sedekat dekatnya.” (Az Zumar: 3).
Latta dan Uzza dahulunya adalah orang shalih..
Ketika mereka meninggal, dibangun patung di atas kuburnya..
Ternyata kaum musyrikin bertawassul melalui mereka..
Dan memohon syafaat kepada mereka di sisi Allah..
Padahal syafaat hanyalah milik Allah semata..
Demi al mushtofa..
Bersumpah dengan makhluk..
Sumpah yang syirik..
Dengarlah hadits ini..
من حلف بغير الله فقد أشرك
“Barang siapa yang yang bersumpah dengan nama selain Allah maka ia telah berbuat syirik.” (HR Muslim). Sampai disini selesai Penjelasan dari ustadz Badrusalam.
Tambahan sedikit, yang penasaran dengan lirik dan artinya, saya sertakan sebagai berikut:
Yaa robbi bil-Mustofa balligh maqooshidanaa
Waghfirlanaa maamadho yaa waasi’al karomi
Wahai Allah demi Al Mustofa Muhammad saw sampaikanlah maksud dan hajad-hajad kami Dan ampunilah dosa-dosa kami yang terdahulu wahai yang Maha Luas dan Wahai yang Maha Dermawan
Muhammadun sayyidul kaunaini watstsaqolaini
wal fariiqoini min ‘urbin wamin ‘ajami
Muhammad saw adalah pemimpin langit dan bumi dan pemimpin seluruh makhluk selain Jin dan Manusia dan pemimpin manusia dari bangsa Arab dan lainnya
Maulaaya sholli wasallim daa-iman abada
‘alan-Nabiyyi wa Ahlil-Baiti kullihimi
Wahai Tuhan kami (Allah SWT) limpahkanlah shalawat dan salam selalu selama-lamanya dan abadi kepada Nabi dan keluarga beliau dan keturunan beliau kesemuanya
Yaa Rasulallaah salaamun ‘alaik yaa rofil-’assyaani waddaroji
Wahai Rasulullah saw salam sejahtera keatasmu wahai yang memiliki derajad yang tinggi dan kedudukan yang mulia
Ahlu-baitil Musthofa-ththuhurihum amaanul ardhi faddakiri
Keluarga Nabi Muhammad saw adalah keluarga yang suci
merekalah yang membawa keamanan di muka bumi maka renungilah
Robbi fanfa’naa bibarkaitihim
wahdinal husnaa bihurmatihim
Wahai Allah berilah kami manfaat dan kemuliaan dengan keberkahan mereka
Dan berilah kami petunjuk dan hidayah dengan kebaikan demi kehormatan mereka
Huwal habiibbul-ladzi turjaa syafaa’atuhu
likulli haulin minal ahwali muqtahami
Beliau saw adalah kekasih yang diharapkan safa’atnya dalam segala kesulitan dari pada kesulitan-kesulitan yang mencekik didunia dan akhirat
Itulah penjelasan kesalahan dalam shalawat. Melantunkan shalawat memang sunnah Rasulullah yang banyak pahalanya. Maka, amalkan dengan bacaan shalawat yang benar benar beliau ajarkan, tak usah bikin modifikasi - modifikasi yang bukannya benar malah keliru. Baca juga paparan kesalahan bacaan shalawat barjanzi.
Senin, 15 Juni 2015
Lima Nasihat di depan pintu gerbang ramadhan
Bismillah...
LIMA NASIHAT DI DEPAN PINTU GERBANG RAMADHAN
Nasihat Syaikh Abdudrazzaq bin Abdul Muhsin Al Badr hafidzahullah
Pertama,
Hendaknya kita merasa sangat bahagia dengan datangnya bulan Ramadhan serta menyambut kehadirannya dengan penuh suka cita, agar Ramadhan memiliki kedudukan dan derajat yang tinggi di hati kita. Kita patut bersyukur kepada Allah Azza Wa Jalla atas nikmat berjumpa dengan Ramadhan.
Betapa banyak manusia yang menjumpai bulan Ramdhan tahun lalu dan bulan-bulan lain sebelum Ramadhan ini namun ajal memutus mereka sehingga tak bisa menjumpai Ramadhan tahun ini. Padahal sebelumnya mereka menanti-nanti berjumpa dengannya. Kita tidaklah tahu, terkadang sebagian orang tidak dapat bertemu dengan Ramdhan sama sekali dan sebagian orang menjumpainya hanya di sebagian bulan saja. Karena itu sudah sepantasnya seorang muslim bersemangat memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat dipertemukan dengan Ramdhan.
Tidak diragukan lagi bertemu dengan Ramdhan dalam keadaan sehat wal afiyat, penuh keselamatan serta memiliki keimanan adalah nikmat yang besar nan agung maka sudah selayaknya engkau menimbang dan mengetahui kedudukannya.
Di antara bentuk rasa syukurmu atas nikmat Allah ini adalah engkau bersemangat dan bersungguh-sungguh menjalankan ketaatan kepada-Nya, menunaikan kewajiban yang Allah perintahkan dengan tekun, baik sholat, puasa dan amalan-amalan lain yang bisa mendekatkan diri kepada Allah serta menjauhi segala perkara yang diharamkan Allah Tabaraka Wa Ta’ala.
Diantara sunnah yang diajarkan Nabi shallallahu’alaihi wasallam tatkala melihat hilal (permulaan bulan hijriyyah) beliau berdoa:
اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا باليُمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلامَة والإِسْلَامِِ ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ
ALLAAHUMMA AHILLAHU ‘ALAINAA BIL YUMNI WAL IMAAN WAS SALAAMATI WAL ISLAAM, RABBIY WA RABBUKALLAAH
Artinya:
“Ya Allah, tampakkan bulan (tanggal satu itu – pend) kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabmu (wahai bulan sabit) adalah Allah.” (HR. At Tirmidzi 3451, Ahmad 1397 dari hadits Thalhah bin Ubidillah radhiallahu’anhu)
Tatkala Allah memuliakanmu dengan nikmat bertemu Ramdhan, sementara engkau melihat bulan sabit (awal bulan Ramadhan), maka berdoalah dengan doa ini. Karena inilah doa yang dicontohkan Nabi shallahu’alaihi wasallam tatkala melihat bulan di setiap awal bulan (Hijriyah).
Kedua,
Menyambut Ramdhan dengan taubat nasuha atas segala dosa dan kesalahan. Setiap diri kita pasti pernah berbuat salah. Sikap lengah, berlebihan, berfoya-foya, menyepelekan, lalai terhadap kewajiban. Sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam:
كل ابن آدم خطاء وخير الخطائين التوابون
“Setiap anak Adam pasti berbuat salah. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat.”
Bulan Ramadhan adalah waktu yang agung untuk bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla. Betapa banyak manusia yang melakukan perbuatan melampaui batas, menyia-nyiakan ketaatan kepada Rabb-Nya dan bahkan bersegera melakukan perbuatan-perbuatan maksiat. Akan tetapi tatkala bulan Ramdhan datang, hatinya tergerak melakukan amal kebaikan. Mereka merasakan pentingnya sebuah ketaatan dan kembali kepada Allah. Lalu mereka menemukan penyesalan atas sikap lalainya kepada ketaatan dan pada akhirnya mereka bertaubat kepada Allah Azza Wa Jalla dengan taubat yang sebenar-benarnya.
Dan Allah Azza Wa Jalla tidaklah menerima taubat seorang hamba kecuali taubat yang dilakukan dengan sebenar-benarnya (Taubat Nasuha). Taubat nasuha memiliki tiga syarat:
1. Menyesali atas perbuatan dosanya.
2. Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya.
3. Berhenti dan meninggalkan perbuatan tersebut.
Apabila taubat diiringi dengan tiga syarat di atas maka taubatnya diterima Allah Ta’ala. Para ulama menambah syarat keempat yaitu:
4. Jika perbuatan dosa tersebut berkaitan dengan hak manusia seperti mengambil harta orang lain atau pelanggaran lainnya, maka wajib memenuhi syarat keempat ini, yaitu mengembalikan hak orang lain yang telah ia rampas atau meminta kehalalan kepada pemiliknya. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk bertaubat kepada-Nya dengan taubat nasuha.
Ketiga,
Perkara yang tak kalah penting yang harus kita perhatikan saat bulan Ramdhan yaitu menjaga ibadah puasa yang merupakan kewajiban kita di bulan mulia ini. Dalam menjalankan ibadah puasa, kedudukan manusia bertingkat-tingkat, meskipun sama-sama menahan makan, minum dan pembatal puasa lainnya dari Subuh sampai matahari tenggelam. Mereka bertingkat-tingkat dalam kesempurnaan, kebagusan ibadah puasanya.
Tatkala Nabi shallallahu’alaihi wasallam ditanya, ”Siapakah yang paling banyak pahalanya ketika puasa? ” Jawab Nabi shallallahu’alaihi wasallam:
أكثرهم لله ذكرا
“Mereka yang paling banyak berdzikir kepada Allah.” (HR. Ahmad 15614 dan Imam Thabrani 1887)
Kita ketahui bersama bahwa orang yang berpuasa bertingkat-tingkat dalam berdzikir kepada Allah, membaca Al Qur’an dan menjaga ketaatan pada Nya.
Sebagian orang menghabiskan malam dengan begadang dan menyia-nyiakanya, lalu tatkala waktu subuh tiba, ia sholat dalam keadaan terkantuk-kantuk -jika ia termasuk orang yang menjaga sholat-. Sebagian orang lagi terluputkan menunaikan sholat Dzuhur dan Ashar tepat waktu. Hendaknya seorang muslim bersemangat menyempurnakan ibadah puasanya, membaguskan serta mengisinya dengan dzikir kepada Allah, bersungguh-sungguh menaati-Nya, menjaga tilawah Al Qur’an, mendatangi majlis kebaikan, duduk di masjid serta memberi semangat jiwanya untuk bersungguh-sungguh beramal shalih.
Keempat,
Perkara paling penting yang harus diperhatikan seorang hamba tatkala menjalankan ibadah puasanya, hendaknya ia selalu mempraktekkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam:
من صام رمضان ايمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR . Bukhari No 37, 1875 dan Muslim No 1268 )
Seorang muslim wajib meniatkan puasanya karena keimanan dan mengharap pahala, bukan karena kebiasaan orang di sekelilingnya. Misalnya karena keluarganya, saudaranya dan teman-temannya puasa, maka ia pun ikut puasa. Begitupula jangan berpuasa karena tidak ingin dicela orang lain dan dipanggil “orang yang berbuka.” Jangan berpuasa karena ingin pamer di hadapan orang lain, ingin dipuji dan disanjung mereka. Jangan sekali-kali berpuasa karena tujuan-tujuan di atas, akan tetapi ia wajib berpuasa karena keimanan dan mengharap pahala. (Di antaranya) keimanan kepada kepada Allah, keimanan kepada janji-janji yang Allah Ta’ala berikan kepada orang yang berpuasa berupa pahala tanpa batas, keimanan kepada kewajiban puasa yang Allah tetapkan bagi hamba-Nya.
Kelima,
Perkara penting lainnya hendaknya kita senantiasa berpuasa dan beramal di bulan Ramadhan dengan niat untuk meraih ketakwaan. Karena inilah tujuan utama pensyariatan ibadah puasa. Sebagaimana Firman Allah Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa .”
Adapun pengertian takwa adalah engkau menjalankan ketaatan kepada Allah di atas cahaya petunjuk dari Allah serta mengharapkan pahala-Nya. Dan engkau meninggalkan kemaksiatan di atas cahaya petunjuk dari Allah serta takut akan adzab-Nya.
Lalu bagaimana puasa bisa membuahkan ketakwaan seorang hamba dan meningkatkan kadarnya?
Pada siang hari di sepanjang tahun seorang muslim membiasakan diri pada perkara yang nyaman bagi dirinya. Ia terbiasa sarapan di waktu pagi, makan siang di waktu siang, minum minuman yang segar. Hal ini menjadi kebiasaannya setiap hari. Akan tetapi tatkala bulan Ramadhan datang, kebiasaan ini ia tinggalkan dan ia jauhi semata-mata karena mengharapkan pahala dari Allah Ta’ala. Inilah esensi dari ketakwaan.
Orang yang sedang berpuasa menahan diri tidak makan dan minum makanan yang tersaji di hadapannya, meskipun ia seorang diri, tidak ada seorang pun yang melihatnya. Akan tetapi ia tetap menahan diri karena ketaatannya kepada perintah Allah.
Inilah yang akan diperoleh seorang muslim di siang hari bulan Ramadhan. Hendaknya ia tingkatkan kualitas seluruh hidupnya dengan menjalankan ketaatan kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Anda, yang menahan diri dari makan dan minum di siang hari Ramadhan karena ketaatan kepada-Nya, maka sudah selayaknya Anda juga menahan diri dari perkara yang Allah haramkan di setiap waktu dan keadaan. Karena Rabb di bulan Ramadhan adalah Rabb di bulan-bulan seluruhnya, Subhanahu wa Ta’ala. Dzat yang wajib ditaati di bulan Ramadhan adalah Dzat yang wajib diataati di bulan-bulan lainnya.
Salah seorang ulama salaf ditanya tentang sejumlah orang yang hanya beribadah kepada Allah di bulan Ramadhan. Mereka menjalankan perintah, menunaikan kewajiban hanya di bulan Ramadhan akan tetapi tatkala Ramadhan usai, ia tinggalkan ibadah tersebut dan ia sia-siakan kewajibannya. Maka ulama salaf tersebut berkata:
بئس القوم لا يعرفون الله إلا في رمضان
“Sejelek-jelek orang adalah mereka yang tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadhan saja.” (Lathaoif Ma’aarif hal.396)
—
Marja': Wajaa a Syahru Ramadhan, Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr hafidzahumallah.
Penerjemah: Tim Penerjemah Wanitasalihah.com
http://wanitasalihah.com/lima-nasehat-di-depan-pintu-gerbang-ramadhan/
[truncated by WhatsApp]
Rabu, 27 Mei 2015
Memperbaiki Niat
💖MEMPERBAIKI NIAT🌷
✏(Syaikhah Ummu Abdirrahman)
💡عندما تكون نقياً من الداخل،
يمنحك الله نوراً من
حيث لا تعلم،
💞يحبك الناس من حيث لا تعلم،
و تأتيك مطالبك من حيث لا تعلم،،
👍صاحب النية الطيبة
هو من يتمنى الخير للجميع دون استثناء ،
☝فسعادة الآخرين لن تؤخذ من سعادتك ،
❗👈 وغِناهم لن ينقص من رزقك ،
❗👈وصحتهم لن تسلبك عافيتك ،
❗👈واجتماعاتهم بأحبتهم
لن يفقدك أحبابك .
💪دائما كن الشخص
الذي يمتلك النية الطيبة
🚿Ketika engkau membersihkan dari dalamnya,
💡Maka Allah akan memberikan karunia kepadamu berupa cahaya dari sisi yang engkau tidak ketahui (dari arah mana datangnya)...
💞Manusia akan mencintaimu dari sisi yang engkau tidak ketahui (dari arah mana datangnya)...
Dan sesuatu yang engkau tuntut akan datang dari sisi yang engkau tidak ketahui (dari arah mana datangnya)...
👍Seseorang yang memiliki niat yang baik adalah seorang yang menginginkan kebaikan itu terdapat pada semua orang tanpa terkecuali,
☝Maka kebahagiaan orang lain itu tidaklah terambil dari kebahagiaanmu...
❗👉Dan kekayaan mereka tidaklah mengurangi rezekimu....
❗👉Dan kesehatan mereka tidaklah menghilangkan kesehatanmu...
❗👉Dan berkumpulnya mereka dengan orang-orang yang dicintai tidaklah menjadikan engkau terlepas dari orang-orang yang engkau cintai...
💪Terus-meneruslah untuk menjadi seseorang yang memiliki niat yang baik.
📝Penerjemah:
🎓Ummu Muhammad Al Bugisiyyah
-------------------
📱WA Silsilah Durus Linnisa-089688865305📚
Mutiara Salaf : Asal Kegelisahan Hati
💎MUTIARA SALAF (09)
⭐Berkata Ibnul Qayyim -rahimahullah-;
إنما تحصل الهموم والغموم والأحزان
من جهتين:
1-الرغبة في الدنيا والحرص عليها،
2-والتقصير في أعمال البر والطاعة.
"Gundah gulana, kegoncangan jiwa serta kesedihan itu terjadi hanyalah dari dua sisi;
☝karena keinginan besarnya terhadap dunia serta bersemangat mendapatkannya, dan
✌kurangnya dalam melakukan amalan-amalan kebaikan dan ketaatan".
_______
📒'Iddatush Shabiriin (317)
📌📌📌
✒Ustadz Fauzan Al Kutawy
-------------------
📱WA Silsilah Durus Linnisa-089688865305📚
Rabu, 13 Mei 2015
⛔ߎ䓡udariku, Merdunya Suaramu Bukan untuk Semua Lelakiߌ逐
⛔🎤Saudariku, Merdunya Suaramu Bukan untuk Semua Lelaki🌹
بسم الله الرحمن الرحيم
➡Allah subhaanahu wa ta'ala berfirman,
فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا
✅"Maka janganlah kamu (para wanita) melembutkan suara dalam berbicara, sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik." [Al-Ahzab: 32]
📝Penjelasan Makna Ayat:
📌Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
ومعنى هذا: أنها تخاطب الأجانب بكلام ليس فيه ترخيم، أي: لا تخاطب المرأة الأجانب كما تخاطب زوجها
👉"Makna ayat ini: Bahwa seorang wanita tidak boleh berbicara dengan laki-laki asing (non mahram atau bukan suaminya) dengan ucapan yang lembut. Maksudnya: Janganlah seorang wanita berbicara dengan laki-laki asing seperti berbicara dengan suaminya." [Tafsir Ibnu Katsir, 6/409]
📌Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
{فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ} وَهُوَ مَرَضُ الشَّهْوَةِ فَإِنَّ الْقَلْبَ الصَّحِيحَ لَوْ تَعَرَّضَتْ لَهُ الْمَرْأَةُ لَمْ يَلْتَفِتْ إلَيْهَا بِخِلَافِ الْقَلْبِ الْمَرِيضِ بِالشَّهْوَةِ فَإِنَّهُ لِضَعْفِهِ يَمِيلُ إلَى مَا يَعْرِضُ لَهُ مِنْ ذَلِكَ بِحَسَبِ قُوَّةِ الْمَرَضِ وَضَعْفِهِ فَإِذَا خَضَعْنَ بِالْقَوْلِ طَمِعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ.
👉“Orang yang ada penyakit dalam hatinya, artinya adalah penyakit syahwat, karena sesungguhnya pemilik hati yang sehat, andaikan ia berpapasan dengan seorang wanita maka ia tidak akan menoleh kepadanya, berbeda dengan pemilik hati yang berpenyakit syahwat, sungguh karena kelemahannya ia selalu cenderung kepada syahwat, kecenderungannya sesuai dengan kuat dan lemahnya penyakit syahwat tersebut, maka apabila kaum wanita melembutkan suara dalam berbicara, berkeinginanlah orang yang ada penyakit syahwat dalam hatinya.” [Majmu’ Al-Fatawa, 10/95]
📌As-Sa'di rahimahullah berkata,
الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ أي: مرض شهوة الزنا، فإنه مستعد، ينظر أدنى محرك يحركه، لأن قلبه غير صحيح
👉"Orang yang ada penyakit dalam hatinya, maknanya: Penyakit syahwat zina, maka ia dengan sangat mudah akan tergoda walau dengan sedikit rayuan, karena hatinya tidak sehat." [Taisirul Karimir Rahman, hal. 663]
📌Beliau rahimahullah juga berkata,
فهذا دليل على أن الوسائل، لها أحكام المقاصد. فإن الخضوع بالقول، واللين فيه، في الأصل مباح، ولكن لما كان وسيلة إلى المحرم، منع منه، ولهذا ينبغي للمرأة في مخاطبة الرجال، أن لا تلِينَ لهم القول. ولما نهاهن عن الخضوع في القول، فربما توهم أنهن مأمورات بإغلاظ القول، دفع هذا بقوله: {وَقُلْنَ قَوْلا مَعْرُوفًا} أي: غير غليظ، ولا جاف كما أنه ليس بِلَيِّنٍ خاضع
👉"Maka ayat ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa hukum sarana sesuai tujuan, karena melembutkan dan memerdukan suara pada dasarnya mubah, akan tetapi ketika ia dapat menjadi sarana kepada yang haram maka dilarang, hingga sepatutnya bagi wanita dalam berbicara dengan laki-laki asing untuk tidak melembutkan suara.
👉Dan tatkala Allah melarang para wanita melembutkan suara, maka bisa terjadi salah sangka bahwa mereka diperintahkan untuk mengeraskan suara, sehingga sangkaan tersebut ditolak dengan firman-Nya:
وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا
👉"Dan ucapkanlah perkataan yang baik." Maksudnya: Tidak keras dan tidak kasar, sebagaimana juga tidak boleh lemah lembut (kepada selain suami)." [Taisirul Karimir Rahman, hal. 663]
📜#Beberapa_Pelajaran:
1) Wanita dalam Islam sangat mulia sehingga perlu dijaga dan diperhatikan dengan baik, bahkan penjagaan Islam terhadap wanita ditetapkan dari seluruh sisi, apakah hatinya, penampilannya, pandangan matanya, tingkah lakunya, termasuk cara berbicaranya.
2) Wanita memang menarik lagi menggoda, maka setan pun sering kali memanfaatkan kaum wanita untuk menjerumuskan kaum lelaki dalam dosa, inilah pentingnya menjaga kaum wanita agar tidak dijadikan anak panah setan.
3) Tidak patut wanita dijadikan 'alat' penarik kaum lelaki selain suaminya, walau hanya dengan suaranya, apatah lagi lebih dari itu seperti tubuhnya dan penampilannya. Maka tidak pantas menjadikan wanita sebagai:
👉SPG yang melayani umum baik pria dan wanita,
👉Penyanyi, dan ini adalah profesi yang haram,
👉Artis dan model, ini juga profesi yang haram karena mengandung berbagai keharaman.
👉Dan berbagai profesi lainnya yang mengeksploitasi kaum wanita sebagai penarik kaum lelaki selain suaminya.
4) Islam telah menetapkan batasan-batasan dan adab-adab yang baik dalam pergaulan, termasuk pergaulan antara lawan jenis, maka hendaklah dipelajari, diamalkan dan diajarkan.
5) Islam adalah agama yang sempurna, mengatur seluruh aspek kehidupan dengan sebaik-baik aturan, membimbing kepada kemaslahatan dan menjauhi kemudaratan, mengajak kepada akhlak yang mulia dan melarang akhlak yang tercela.
6) Berpalingnya manusia dari bimbingan syari'at akan memunculkan berbagai macam malapetaka dan kerusakan, baik dunia dan agama.
7) Hati terbagi tiga; hati yang sehat, yang sakit dan yang mati.
8) Bahaya penyakit hati dan pentingnya menjaga dan mengobatinya, serta bahaya memperturutkan nafsu syahwat.
9) Seorang suami atau istri wajib memahami adab-adab pergaulan dan batasan-batasan antara suami istri dan lawan jenis yang bukan suami atau istrinya.
10) Kaidah syari'at: (الوسائل لها أحكام المقاصد) Sarana memiliki hukum sesuai tujuan.
11) Sesuatu yang mubah dapat menjadi haram apabila mengantarkan kepada yang haram, dan dapat menjadi wajib apabila suatu kewajiban tidak dapat tegak kecuali dengannya.
12) Perintah berkata-kata yang baik.
13) Syari'at Islam apabila melarang sesuatu pasti memberikan solusi yang lebih baik, ketika syari'at Islam melarang berbicara dengan cara yang tidak baik, selanjutnya diperintahkan berkata-kata yang baik.
14) Keindahan dan keistimewaan syari'at menunjukkan Allah Maha Berilmu dan Maha Hikmah.
15) Manusia adalah makhluk yang lemah, mudah terjerumus dalam dosa oleh nafsu syahwat dan godaan setan, jalan selamatnya adalah berpegang teguh dengan syari'at Allah ta'ala dan senantiasa memohon pertolongan-Nya.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
💾🌐http://sofyanruray.info/saudariku-merdunya-suaramu-bukan-untuk-semua-lelaki/
Boleh disebarkan sebagai ta'awun dalam dakwah tauhid dan sunnah, jazaakumullaahu khayron wa baaroka fiykum.
[disingkat oleh WhatsApp]
Langganan:
Postingan (Atom)